UMS Ingin Mengkaji Etnik Bajau Laut

Melestarikan Warisan Bahari: Komitmen UMS dalam Menonjolkan Budaya Bajau Laut

Semporna bukan sekadar gerbang menuju keindahan bawah laut dunia, tetapi juga rumah bagi salah satu peradaban maritim paling unik di Nusantara: etnik Bajau Laut. Menyadari potensi warisan yang belum sepenuhnya ditonjolkan ini, Universiti Malaysia Sabah (UMS) mengambil langkah nyata untuk memartabatkan kebudayaan maritim setempat sebagai identitas bangsa.

Naib Canselor UMS, Prof. Datuk Dr. Kamaruzaman Ampon, menegaskan bahwa komitmen universitas tidak hanya sebatas teori. Melalui berbagai aktivitas seperti pemasangan unjam ikan, penelitian mendalam, hingga partisipasi aktif dalam festival tahunan Regata Lepa, UMS berupaya menjaga agar api kebudayaan ini tetap menyala.

Regata Lepa: Lebih dari Sekadar Pertandingan

Bagi UMS, partisipasi dalam Regata Lepa adalah simbol dedikasi institusi pendidikan dalam memartabatkan keberagaman etnik di Sabah. Festival ini bukan hanya ajang adu keindahan ukiran perahu lepa, tetapi juga sarana promosi pariwisata yang menempatkan Semporna dalam peta destinasi global.

Keterlibatan mahasiswa dalam acara ini juga dipandang sebagai metode pengembangan kemahiran insaniah (*soft skills*). Dengan terjun langsung ke masyarakat, para mahasiswa diberi ruang untuk memahami latar belakang budaya Bajau Laut secara luas, membangun jembatan antara akademisi dan komunitas tradisional.

Literasi Maritim: Buku 'Pulau Mabul: Dulu, Kini, dan Masa Depan'

Salah satu pencapaian penting dalam misi pelestarian ini adalah peluncuran buku karya Prof. Madya Dr. Ismail Ali yang bertajuk "Pulau Mabul: Dulu, Kini, dan Masa Depan". Buku yang diluncurkan oleh Yang Dipertua Negeri, Tun Juhar Mahiruddin, ini mengupas tuntas:

  • Sejarah awal pemukiman di Pulau Mabul.
  • Proses pembangunan dan transformasi wilayah tersebut.
  • Persoalan semasa serta tantangan masa depan masyarakat pulau.

Visi Masa Depan: Cerita Lisan Komuniti Maritim

Sebagai kesinambungan, UMS menargetkan peluncuran buku selanjutnya berjudul "Cerita-Cerita Lisan Komuniti Maritim di Semporna". Langkah ini sangat krusial mengingat banyak sejarah maritim Nusantara yang bersifat lisan dan rentan hilang ditelan zaman.

Lepa: Simbol Tradisi Besar Maritim Nusantara

Budaya maritim yang menggunakan Lepa (perahu tradisional) dalam kehidupan sehari-hari adalah bagian dari sejarah besar maritim di Nusantara. Unsur budaya ini tidak hanya eksis di Sabah, tetapi juga memiliki akar yang kuat di perairan Filipina dan Indonesia. Kelestarian seni ukir setempat pada lepa membuktikan bahwa teknologi tradisional tetap mampu bertahan di tengah arus modernisasi.

Baca: Pengalaman Remaja Laut (APMM)


Melalui riset dan keterlibatan aktif, kita memastikan bahwa warisan Bajau Laut bukan sekadar sejarah, melainkan identitas yang terus hidup dan menginspirasi generasi pelaut masa depan.

Eksplorasi Dunia Maritim Bersama Kami

Ingin tahu lebih banyak tentang sejarah bahari, teknologi kapal, dan jaringan profesional pelaut di seluruh Nusantara?

Dapatkan Akses Eksklusif:

Daftar Membership PelautConnect Sekarang!

LihatTutupKomentar