Wira di Tengah Samudera: Kisah Perjuangan Anak Muda dalam APMM
Jam menunjukkan pukul 5 pagi. Di atas kapal KM Sempadi, anak-anak kapal sedang tidur nyenyak, sesekali terbuai oleh alunan ombak yang memukul lambung kapal. Namun, ketenangan itu seketika sirna. Sebuah ombak raksasa menghantam kapal yang sedang berlabuh di jeti Marina, Pulau Tioman. Barang-barang berjatuhan, meja beralih kedudukan, dan kapal mulai terombang-ambing hebat.
Bagi anggota Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM), ini bukanlah adegan film, melainkan kenyataan hidup yang harus mereka hadapi demi menjaga keselamatan perairan negara. Di balik seragam gagah mereka, tersimpan cerita tentang keberanian, disiplin, dan pengorbanan.
Antara Nyawa dan Perintah: Menghadapi Amukan Alam
Bagi Mohd Khairul Anwar Hamzah (27), seorang Pegawai Laksamana Muda, pengalaman di Pulau Tioman tersebut adalah salah satu detik paling mengerikan. Kapal berayun hingga kemiringan 45 derajat, mengakibatkan dinding kapal kemek karena hentakan kuat pada jeti.
"Jika berlaku sebarang ancaman, kami diminta untuk tidak bertindak mengikut pandangan sendiri. Kami perlu mendengar arahan ketua kapal," jelas Khairul. Kedisiplinan untuk tetap tenang dan tidak panik adalah kunci keselamatan; melompat keluar dari kapal yang sedang terombang-ambing justru bisa berakibat fatal.
Misi Berbahaya: Bot Nelayan Ilegal hingga Tragedi Kapal Tangki
Tugas APMM tidak hanya berurusan dengan cuaca. Khairul juga menceritakan pengalamannya mengamankan bot nelayan pendatang asing yang enjinnya tidak terkendali karena kemasukan air. Situasi tersebut sangat berisiko jika bot tersebut bertabrakan dengan kapal dagang besar.
Namun, yang paling membekas adalah peristiwa tabrakan kapal tangki MT Formosa Product Brick dengan MT Ostende Max. Tragedi tersebut mengakibatkan tujuh kru kapal tewas terbakar di perairan Port Dickson. Menghadapi pemandangan menakutkan seperti itu justru menjadi penguat semangat bagi Khairul, yang merupakan anak seorang nelayan, untuk terus berkhidmat di laut yang ia cintai.
Latihan Induksi: 'Alah Bisa Tegal Biasa'
Lain pula kisah Nor Ahmad Sufi Rafie (21). Sebagai Laskar kelas II Maritim, ia mengakui bahwa latihan induksi selama empat bulan setengah adalah masa yang paling menguji kemampuan diri. Denda fisik dan latihan yang terasa "tidak masuk akal" menjadi makanan harian.
"Jika ingin berjaya, kena terima apa saja cabaran yang datang," ujarnya. Prinsip ini membantunya bertahan hingga akhirnya bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan keras di laut.
Melawan Mabuk Laut
Kisah unik juga datang dari Mohd Saharay Mujin (22). Baru seminggu bertugas, ia langsung diserang mabuk laut. "Masih belum biasa lagi duduk dan tidur dalam kapal yang sentiasa bergerak-gerak," tuturnya sambil tertawa mengenang tips makan asam dari rekan-rekannya untuk menghilangkan rasa mual.
Meski penuh tantangan, kerjaya di APMM menawarkan kepuasan tersendiri dan pendapatan yang menjanjikan, bahkan bagi lulusan SPM, dengan gaji awal yang bisa mencapai RM 2.256 sebulan.
Menjadi bagian dari APMM bukan hanya tentang pekerjaan, melainkan tentang panggilan untuk menjaga kedaulatan samudera. Apakah Anda memiliki ketangguhan mental dan fisik untuk menjadi pelindung laut berikutnya?
Baca: Kisah Pilu Keluarga Ditinggal Ayah Diculik Perompak
Ingin Berkarir di Dunia Maritim?
Dapatkan informasi terbaru mengenai peluang kerja, pelatihan, dan jaringan profesional maritim terbesar di Indonesia dan Malaysia.
Mari Bergabung:
